Tujuh Martabat Kehidupan

Oleh :
Prof DR DR (HC) DR Syarief Muhammad Al Kadrie ST., MT

SETIAP orang berhak untuk dihargai dan dihormati dan diperlakukan secara etis. Itu lah martabat. Martabat merupakan konsep yang penting dalam bidang moralitas, etika, hukum, dan politik, dan berakar dari konsep hak-hak yang melekat pada diri manusia dan tidak dapat dicabut dari Abad Pencerahan.

Ada tujuh martabat yang harus menjadi pedoman bagi setiap individu yang akan di paparkan dalam tulisan ini. Untuk dapat memahami konsep ini, setiap individu hendaknya menghilangkan kalkulator di otak. Sebab teori ini sangat sederhana tidak perlu kalkulasi untuk memahaminya.

Mengapa demikian? Sebab kita masih butuh dunia. Maka perlu teori yang sederhana agar mudah dipahami. Diakui, jika konsep ini adalah penyederhanaan dari konsep tujuh latifah, yang sangat sulit dipahami bagi awam. Bahkan, butuh waktu puluhan tahun untuk memahaminya. Itu sebabnya perlu penyedehanaan agar metode menjadi sederhana dan cepat dipahami.

I K L A N

Berikut tujuh konsep martabat kehidupan tersebut :
1. Senyum
Datangnya kesabaran berawal dari tersenyum. Senyum akan menepis kekuatan di luar kekuatan manusia. Senyum adalah hal yang mudah tapi sulit dilakukan.

Senyum identik dengan jati diri. Karenanya, senyum akan meningkatkan kualitas manusia. Tidak hanya itu, tersenyum dapat menjadi penyebab terkabulnya doa.

2. Bergerak
Barangsiapa yang bergerak, sejatinya dia sedang berproses. Melakukan hal-hal positif, dan sejatinya dia sedang menjemput rahmat Allah.

Untuk bergerak, setiap individu akan memaksimalkan indranya. Di indra itu lah Allah menunjukkan kebesan-Nya.

3. Menjaga Lisan
Lisan merupakan organ tubuh manusia yang sangat penting, untuk dzikir kepada Allah, mengucap kalimat syahadat, dan berhubungan dengan sesama manusia. 

4. Memberi Adalah Menerima
– tak berburuk sangka dan jangan marah
Dalam memberi tidak ada hitungan. Sholat yg baik tdk ada berburuk sangka.

5. Rendah Diri
Buka jubah kebesaran kita. Dengan rendah diri, maka senyum akan lebih mudah dan senyum mendekatkan kita ke Allah, bersanding dengan Nabi Muhammad SAW. Tidak hanya itu, dengan rendah diri akan membuka jalan keluar atas segala kesulitan.

6. Melayani Bukan Dilayani
Kita semua pasti sudah tahu istilah melayani. Ini dari kata layan. Dari sini muncul kata pelaya dan layani. Biasanya istilah melayani ini ditujukan kepada orang yang lebih rendah kedudukan atau derajatnya. Seperti di rumah terhadap assisten rumah tangga, istri dan anak. Di kantor terhadap orang yang jabatannya lebih rendah, seperti office boy dan sebagainya.

7. Menerima Kritikan
Sepedas apapun kritikan pada kita itulah kenyamanan. Untuk menerima kritikan dengan legowo bukanlah perkara yang mudah. Pasti akan ada perasaan yang mengganjal, lantaran kamu sudah bekerja keras menyelesaikan project, namun responnya berbanding terbalik.

Bagaimanapun juga, kritikan adalah hal penting demi kemajuanmu. Ketika sedang diberikan masukan atau saran, itu bisa jadi bahan evaluasimu, apa saja kekurangan dan yang perlu dibenarkan, supaya kedepannya tidak terulang kembali.

Itu lah tujuh martabat kehidupan. Dalam tulisan ini, penulis ingin mengajak kita semua untuk dapat mengamalkan konsep tujuh martabat kehidupan ini. Tentunya, untuk setiap ilmu haruslah bersanad dan mesti di tajalikan dan menjaga robutoh kepada guru.

Wallahu’alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *