Melacak Sejarah Islam di Sai Bumi Nengah Nyappur

Oleh:
Al-Zastrouw Ng. 

DUA hari, tanggal 12-13 Februari kemarin, kami diundang menjadi nara sumber di acara Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan komunitas Klasika di Lampung. Setelah mengisi acara, kami berkesempatan melakukan ziarah ke beberapa makam keramat para ulama penyebar Islam di daerah Tulang Bawang. Makam yang kami kunjungi, di antaranya adalah makam Tubagus Muhammad Ali bin Usman yang terletak di tiyuh (kampung) Panumangan, Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) dan makam Tubagus Mustofa (Syekh Bagus Mustofa) yang terletak di kampung Umbul Balong Nyelih, Bandardewa, Tubaba.

Saat kami tiba di makam Tubagus (Tb) Ali, ada beberapa anak muda dan mahasiswa dari IAIN Metro dan para ektifis IPNU/IPPNU yang sedang berziarah. Makam tersebut berada di pemakaman umum yang letaknya persis di tepi jalan utama menuju ibu kota Kabupaten Tubaba. Bangunan makam sangat sederhana, hanya berukuran sekitar 3x4m.

Menurut pengakuan masyarakat sekitar, makam itu banyak dikunjungi para peziarah, khususnya pada malam jumat. Saat perayaan khaul, ribuan peziarah datang, bahkan para pejabat Kabupaten Tubaba ikut hadir ke makam untuk berdoa dan memohon berkah. Tak ada keteranagan jelas mengenai sosok Tb Ali, namun masyarakat sekitar meyakini beliau adalah ulama besar penyebar Islam di kawasan Tulang Bawang.

Berdasarkan cerita tutur masyarakat setempat, makam Tb Ali mulai dikunjungi peziarah sejak ditemukan oleh oleh KH Wahyudin Tohir pada tahun 1993. Pada saat itu, Kiai Wayudin diperintah oleh gurunya untuk berziarah ke makam Walisongo dan para ulama dengan berjalan kaki. Seteah selesai menjalankan “laku” tersebut, Kiai Wahyudin disuruh gurunya melanjutkan ziarah ke makam Tb Muhammad Ali sebagai penyempurna “laku”.  Perintah tersebut dilaksanakan, hingga akhirnya makam Tb Ali ramai dikunjungi para peziarah.

Para Penyebar Islam
Di Makam TB Mustofa

Setelah dari makam Tb Muhammad Ali, kami melanjutkan ziarah ke makam Tb Mushofa. Letak makam berada di tengah-tengah perkebunan karet, di tepi sungai yang jauh dari pemukiman penduduk. Jalan menuju makam masih bebatuan, namun sudah bisa dilewati mobil. Di lokasi makam sudah ada mushala dan ruang untuk juru junci. Meski sederhana, namun susana cukup asri, dengan pagar dan konblok yang rapi.

Menurut penuturan Pak Sholeh Taufiq, tokoh masyarakat yang mengantar kami ke makam, bangunan makam itu dibiayai oleh seorang peziarah dari Rawajitu dan beberapa di antaranya atas sumbangan Pemda Tubaba. Menurut cerita Pak Sholeh, makam ini mula-mula ditemukan oleh Kiai Nur Kholis, seorang transmigran dari Jawa yang baru masuk daerah tersebut.

Pada tahun 1973, Kiai Nur Kholis didatangi oleh seseorang bernama Mustofa. Orang tersebut mengaku tinggal di suatu tempat dan menyuruh Kiai Nur Kholis mengunjungi tempat tersebut. Kiai Nur Kholis segera mendatangi tempat dengan ciri-ciri yang disebut oleh tamu yang mengaku bernama Mustofa. Teryata tempat tersebut hanya gundukan tanah yang berada di antara rumpun bambu. Setelah dibersihkan, ternyata gundukan tanah tersebut adalah makam. Sejak saat itu, kyai Nur Kholis merawat makam tersebut hingga banyak peziarah mendatangi makam tersebut. Bahkan ada keluarga dari Banten yang datang dan mengaku dzuriyah dari Syekh Tb Mustofa.

Selain kedua makam tersebut, sebanarnya banyak makam ulama dan penyebar Islam yang dikeramatkan di Tulang Bawang. Ini terjadi karena Tulang Bawang merupakan salah satu pintu masuk Islam di Lampung. Berdasarkan buku Napak Tilas Jejak Islam Lampung karya Muhammad Chandra Syahputra, ada tiga pintu masuk Islam di Lampung. Pintu Barat berasal dari Minangkabau (Kesultanan Pagaruyung); jalur Utara, Islam masuk ke Lampung dari Palembang; dan jalur Selatan dari Banten.

Berdasarkan jejak makam yang ada, jalur Banten banyak mempengaruhi Islam di Tulang Bawang. Bahkan, secara mitologis ada hubungan permusuhan antara Tulangbawang (Pagardewa) dengan kesultanan Palembang.

Berdasarkan cerita tutur yang berkembang di masyarakat, keretakan hubungan antara Pagardewa dengan Palembang terjadi ketika Tuan Rio Mangkubumi sebagai Raja Pagardewa dibunuh oleh sultan Palembang, sehingga menimbulkan dendam bagi anak keturunannya. Salah satu anak Tuan Rio Mangkubumi yang ingim membalas dendam atas kematian ayahnya adalah Minak Ratu Jurit yang juga dikenal dengan Minak Kemolo Bumi, yang akhirnya menjadi penyebar Islam di Pagardewa.

Dikisahkan, untuk membalas dendam atas kematian ayahnya, Minak Jurit berguru pada ulama di Banten. Saat belajar itulah, dia diuji oleh Sultan Banten disuruh tidur dengan ipar istri Sultan. Tapi selama tidur bersama Istri-istri Sultan, tak ada satu pun yang dijamahnya. Atas keberhasilan menerima ujian tersebut, Minak Jurit mendapat hadiah berangkat ke Mekkah untuk menunaiakan ibadah haji dan belajar ilmu agama.

Sepulang dari mekkah Minak Jurit berganti nama menjadi Haji Jurit Hidayatullah. Minak Haji menjadi seorang ulama penyebar Islam dan tidak meneruskan membalas dendam terhadap Sultan Palembang.  Setelah meninggal, Minat Jurit dimakamkan di Pagardewa.

Poros Lampung-Banten

Beberapa kisah ini menunjukkan kedekatan hubungan antara ulama Lampung, khususnya yang ada di Pagardewa dan Tulang Bawang, dengan Kesultanan Banten. Kedekatan hubungan ini tidak hanya berdasarkan sanad keilmuan, tetapi juga hubungan kekerabatan, karena para minak itu juga menikah dengan kerabat Kesultanan Banten. Kedekatan Islam di Tulang Bawang dengan Banten juga tercermin dari gelar “Tubagus” yang disematkan pada para ulama penyebar Islam di Tulang Bawang. Tubagus merupakan gelar kehormatan yang khas Banten untuk para ulama penyebar Islam.

Meski ada jejak sejarah yang berupa makam dan beberapa peninggalan benda sejarah, namun belum ada bukti faktual yang menjelaskan hubungan antara ulama dan penyebar Islam Tulang Bawang dengan Banten. Misalnya, guru-guru dari Minak Haji Jurit Hidayatullah, Tb Ali, Tb Mustofa, tarekat dan mursyid  yang diikuti serta kitab pegangan yang diajarkan kepada masyarakat. Semua masih bersumber pada cerita tutur yang berkembang dari mulut ke mulut.

Dari perjalanan singkat ini penulis melihat banyak sekali jejak sejarah Islam di kawasan Tulang Bawang (Pagardewa) dan Lampung pada umumnya yang menarik untuk diungkap. Jejak sejarah ini merupakan cikal bakal dan sumber penting terbentuknya konstruksi Islam Nusantara. Pengungkapan sejarah ini tidak saja penting untuk dunia akademik, tetapi juga pengembangan ekonomi bagi masyarakat Lampung. Dengan terbukanya jejak sejarah akan bisa meningkatkan animo masyarakaat untuk melakukan wisata religi yang memiliki dampak ekonomi dan spiritual bagi masyarakat.

Minimnya data sejarah merupakan tantangan menarik bagi para akademisi dan peneliti untuk melakukan penelusuran jejak sejarah dan penggalian bukti-bukti material baik dalam bentuk naskah, artefak, dan benda-benda sejarah lainnya yang bisa menjadi bukti penguat masuknya Islam di Tulang Bawang sehingga bisa dilihat pola dakwah, metodologi pengajaran Islam, serta proses dialog budaya yang terjadi dalam proses Islamisasi. Dengan kata lain, perlu ada upaya serius untuk menggali beberapa naskah kuno yang bisa menjadi petunjuk dan bukti sejarah penyebaran Islam di Lampung, khususnya Tulang Bawang dan Pagardewa. Ini semua merupakan agenda akademik yang menarik bagi akademisi dan intelektual Islam Nusantara. ***

*) Artikel yang sama juga tayang di duniasantri.com dengan judul : Melacak Jejak Islam di Tulang Bawang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *