Mbah Dim Dalam Ingatan

ARIYADI AHMAD
Santri Bandel

PAGI ini begitu cerah. Hangat mentari pagi memeluk bumi Lampung, Jumat (10/06/2022).

Saya baru saja nyeruput kopi sajian sang istri, sambil membuka beberapa notifikasi. Begitu terkejutnya saya, tatkala salah satu notifikasi menginformasikan kabar duka.

Ya, ulama karismatik KH Dimyati Rois itu berpulang. إنا لله وإنا إليه راجعون
Kita turut berduka, “kehilangan”, KH. Dimyati Rois (Mbah Dim), lahir di Bulakamba, Brebes, 5 Juni 1945 dan wafat di RS. Tlogorejo pada dini hari pukul 01:13 WIB Jum’at, 10/06/2022. Tulis KH Ahmad Ishomudin di postingan media sosialnya.

Seketika hati ini mendung. Sepontan Alfatihah terlantun khusus untuk sang ahli sejarah agama dan bangsa itu.

Masih teringat jelas, bagaimana sang kiai sepuh itu mengajarkan kesederhanaan kepada siapa pun, termasuk kepada sejumlah tokoh. Kala itu, Muktamar NU di Lampung, mbah di temani beberap orang putra dan santrinya mukim di Bukit Randu.

Hanya ada satu kamar yang tersisa, itu pun kamar yang tak seberapa luas. Mbah Dim saja yang berada di kamar, yang lain ngampar di luar, termasuk sejumlah tokoh (eks menteri) yang hendak sowan.

Saya dan beberapa senior ikut tabarukkan hingga pagi. Di temani tiga putra Mbah Dim yang salah satunya adalah Anggota DPR RI. Tidak ada jarak dan pembeda antara kami, semua berbaur, bergurau sembari sekali mengayunkan bidak catur.

Kesederhanaan Mbah Dim jelas menitis pada dzuriyahnya. Kelembutan tutur kata dan kedalaman ilmu tergambar pada keluwesan prilaku putra-putranya.

Malam itu, saya tak sempat mencium tangan beliau (Mbah Dim). “Tak apa. Bercengkarama dengan putra-putranya saja sudah cukup,” mbatinku malam itu.

Itu lah kenangan saya dengan pengasuh Pondok Pesantren al-Fadlu wal Fadlilah, Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah itu. Tidak banyak yang dapat saya ingat. Tapi yang sedikit itu sudah membuat saya merasa begitu dekat.

Momen bersama salah seorang putra Mbah Dim

Hari ini, beliau telah mendahului kita semua. Sejumlah tokoh dan muhibbin yang memiliki kemampuan pergi takziyah ke pusara terahir Mbah. Ya, hampir semua orang mengenal beliau sebagai seorang tokoh bangsa, kyai sepuh kharismatik yang hidup dalam kesederhaan, ceramahnya tentang sejarah, agama dan kebangsaan sangatlah menarik, bahasanya lugas dan mudah dipahami, seorang komunikator yang piawai.

“Beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren al-Fadlu wal Fadlilah, Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, dengan segudang santri dan alumni yang bermanfaat di tengah masyarakat sudah sangat banyak. Perjuangan dan khidmahnya yang tulus untuk NU tidak ada yang mengingkari. Mbah Dim tercatat dalam sejarah telah dua kali menjadi anggota Ahlul Halli wal-‘Aqdi, yakni pada Muktamar ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur (1-5 Agustus 2015) dan Muktamar ke-34 NU di Lampung 2021, dan beliau juga salah seorang Mustasyar PBNU.

Syuriah NU priode Buya Said, KH Ahmad Isomudin dalam statusnya menuliskan tentang prediksi dan firasat Mbah Dim di dunia politik terkenal sangat akurat.

Sekedar contoh, lanjut Kiyai Isom, KH Chalwani Berjan, Purworejo, Jawa Tengah, yang sanad Kitab Jam’ul Jawami’-nya melalui Mbah Dim saat menjadi santri di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, suatu saat pernah sowan Mbah Dim untuk meminta doa restu ingin menjadi anggota DPD-RI. Kala itu, Mbah Dim memegang dan menepuk-nepuk telapak kaki kiri Kyai Chalwani sambil berkata, “Sampeyan kethok gambare (Gambarmu terlihat)”. Ternyata terbukti benar, KH. Chalwani Berjan setelah melalui proses yang agak alot akhirnya dilantik menjadi anggota DPD-RI periode 2004-2009.

Kedalaman ilmu agama, wawasan kebangsaan yang luas, kecintaan yang amat kepada bangsa Indonesia, kesederhanaan hidup, ketulusan, kesabaran, kepemimpinan, kesalehan, dan semua keutamaan dari seorang warasat al-anbiya’ seperti KH. Dimyati Rois sudah seharusnya kita teladani.

Semoga semua amalan dan jasa-jasa baik beliau diterima oleh Allah SWT.
Lahu al-Fatihah. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *