Ini Profil Ketum PBNU Terpilih Pada Muktamar ke 34 NU di Lampung

JARRAKPOSLAMPUNG – KH Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya merupakan kakak Menteri Agama RI saat ini Yaqut Cholil Qaumas. Keduanya merupakan putra Cholil Bisri, kiai yang juga aktif dalam kancah perpolitikan nasional sebagai eks Wakil Ketua MPR dan salah satu pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Presiden Joko Widodo melantik Gus Yahya sebagai salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) pada 31 Mei 2018. Sebelumnya, Gus Yahya pernah menjadi juru bicara Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, presiden keempat RI.

Gus Yahya lahir di Rembang, Jawa Tengah, 16 Februari 1966. Ia santri tulen atau lahir dari garis keturunan santri dan tumbuh di lingkungan pesantren.

Ia pernah berguru kepada KH Ali Maksum Madrasah Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta. Baru ketika memasuki usia kuliah, ia melanjutkan studi di FISIPOL Unviersitas Gadjah Mada.

Momen saat Gus Yahya sungkem kepada Buya Said

Nama Gus Yahya pernah menuai kontroversi karena memenuhi undangan untuk pergi ke Israel yang dilayangkan American Jewish Committee (AJC) Global Forum pada 2018 lalu.

Bagi sebagian kalangan, langkah itu dianggap tidak selaras dengan komitmen terhadap kemerdekaan Palestina.

Meski demikian, Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini beranggapan bahwa langkah itu selaras dengan yang pernah dilakukan Gus Dur, untuk mewujudkan kemerdekaan Palestina lewat diplomasi segala cara.

Gus Dur sendiri pernah diundang oleh Forum Global AJC pada 2002 di Washington DC, Amerika Serikat.

Adapun Gus Yahya dan Buya Said melaju ke pemilihan ketua umum PBNU dalam Muktamar ke-34 NU setelah memenuhi syarat minimal dukungan 99 suara dari para pemilik suara.

Berdasarkan hasil pemungutan suara yang dilakukan sejak Jumat dini hari, Yahya mengantongi 327 suara sedangkan Said memperoleh 203 suara.

Selain Gus Yahya dan Buya Said, suara juga mengalir ke tiga bakal calon lainnya yakni KH As’ad Said Ali dengan 17 suara, KH Marzuki Mustamar mendapat 2 suara, dan KH Ramadhan Boayo dengan 1 suara.

Sementara, ada 1 suara yang dianggap abstain dan 1 suara lainnya dianggap batal.

Dari pantauan di lokasi Muktamar, 548 suara yang masuk untuk KH Said Aqil 210, untuk Gus Yahya Cholil Staquf 337 dan satu suara batal.

Dalam sambutannya, Gus Yahya mengatakan banyak terima kasih pada Buya Said Aqil yang disebutnya sebagai guru, yang telah mendidik, menggembleng, menguji, dan juga membukakan jalan bagi dirinya.

“Saya tidak tahu apakah akan cukup bagi saya untuk membalas jasa jasa beliau. Kalau ini disebut keberhasilan, ya ini keberhasilan beliau. Kalau ada yang patut dipuji dari semua ini, ini beliau,” kata Gus Yahya.

Buya Said sendiri meminta masyarakat melupakan persaingan antara dirinya dan Gus Yahya. Dirinya mengajak semua elemen NU kembali bergandengan tangan membangun organisasi.

“Saya walaupun tak jadi pengurus, misalkan, akan tetap mendakwahkan islam asunah waljamah Nahdlatul Ulama. Tetap akan menyebarkan islam wasatiyah tasamuhiyah, islam yang moderat dan toleran,” kata Buya Said. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *