Hati Hati Doktrin Radikal!

Dari Focus Group Discussion, Eksistensi Penyebaran Paham Khilafah yang Digelar PC PMII

JARRAKPOSLAMPUNG – Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bandarlampung melaksanakan kegiatan Focus Group Discussion dengan tema Eksistensi Penyebaran Paham Khilafah Di Tengah Upaya Penegakan Hukum Oleh Pemerintah, di Aula Perpustakaan Universitas Lampung, Kamis (07/07/2022).

PC PMII Bandarlampung menghadirkan pembicara-pembicara yang kompeten dibidangnya masing-masing, diantaranya: Dr. Sapto Priyanto,M.Si akademisi Universitas Indonesia, Ken Setiawan Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center, Drs. Muhammad Firsada, M.Si yang merupakan Kaban Kesbangpol dan Muhammad Julianto selaku Ketua Umum PC PMII Bandar Lampung pun menghadirkan Edi Santoso yang merupakan Mantan Napiter

Ketua pelaksana, Nur Hamzah mengatakan bahwa kegiatan ini dilaksanakan secara Hybrid dengan peserta masing-masing berjumlah 90 luring dan 110 daring.

“Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan streaming YouTube  yang kemudian ditonton oleh 110 peserta dan secara luring dihadiri oleh 90 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang organisasi.” Ucap Hamzah

Kegiatan ini digelar sebagai bentuk pengawalan dan respon terhadap penyebaran paham khilafah terutama menyoal insiden Khilafatul Muslimin yang sempat menjadi headline pemberitaan nasional.

“Selain mempertegas fungsi kampus sebagai kawah pemikiran dan diskusi berbagai topik persoalan, tentu FGD ini bukan berniat untuk memberikan justifikasi atau penghakiman atas kelompok tertentu,” kata Ketum PC PMII Muhammad Julianto.

Menurut pria yang akrab disapa Juli itu, penegakan hukum terbaik terhadap kelompok yang disinyalir memiliki ideologi yang tidak selaras dengan Pancasila harus menjadi poin utama.

Suasana FGD yang digelar PC PMII Bandarlampung di Aula Perpustakaan Unila.

“Konsensus soal Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sifatnya final, harus mampu diterjemahkan semua pihak sebagai titik tumpu, titik temu, dan titik tuju bangsa Indonesia,” tuturnya.

Juli juga mengatakan,  FGD ini sangat membahagiakan karena dihadiri oleh berbagai pihak sehingga banyak pendapat dan sudut pandang yang hadir untuk akhirnya bisa dipersatukan.

“Alhamdulillah, agenda ini membuktikan kalau soal keberlangsungan negara, masih banyak pihak yang terus punya perhatian dan kepedulian ditengah candunya apatisme pada generasi milenial,” tegasnya.

Edi Santoso yang merupakan Mantan Napiter juga sempat memberikan testimoni bagaimana doktrin soal radikalisme bisa menyasar berbagai kalangan.

“Hati-hati doktrin radikalisme bisa ditujukan kepada semua kalangan” ucap Edi secara tegas.

Dr. Sapto Priyanto,M.Si seorang akademisi Universitas Indonesia yang juga sebagai pembicara dalam FGD mengatakan bahwa dalam tindakan penyebaran paham khilafah hendaknya aparatur negara bertindak tegas

“Dalam hal masih ada warga negara baik pribadi maupun kelompok yang melakukan tindakan penyebaran paham khilafah maka hendaknya aparatur negara bertindak tegas, sama halnya dengan ketika ada warga negara yang menyebarkan paham ateisme, komunisme/marxisme-leninisme yang juga jelas-jelas dinyatakan bertentangan dengan Pancasila,” tutup Dr. Sapto dalam diskusi. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *