Esti Nur Fathonah ; Jaringan WS di Lampung?

Peserta Seleksi KPU di Lampung Sempat Berkomunikasi Dengan Staf Wahyu Stiawan

JARRAKPOSLAMPUNG – Sidang lanjutan dugaan pelanggaran kode etik (suap) oleh Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) terhadap terlapor Komisioner KPU Lampung, Esti Nur Fatonah di Kantor Bawaslu Lampung, Senin (20/01/2020) mengungkap fakta baru.

Fakta persidangan mengungkapkan jika sempat ada komunikasi antara peserta seleksi KPU kabupaten/kota di Lampung dengan Komisioner KPU RI, Wahyu Setiawan yang belum lama ini kena Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh KPK atas dugaan suap.

Dari fakta persidangan tersebut, patut diduga jika Esti Nur Fatonah adalah salah satu jaringan Wahyu Setiawan di Lampung.

Pelapor dalam kasus tersebut, Budiono didampingi kuasa hukumnya Ketua LBH Bandarlampung, Chandra Mulyawan mengungkapkan bahwa korban dalam kasus ini, Viza Yelisanti sempat dihubungi seseorang bernama Toni, yang mengaku sebagai bagian dari KPU RI.

“Dia (Toni) mengaku orangnya KPU RI. Ada jaminan Viza Yelisanti (peserta seleksi KPU Tulangbawang) dan Lilis P (peserta seleksi KPU Pesawaran) bisa lolos seleksi kalau perkara ini tidak dilanjutkan,” kata Candra Mulyawan.

Menurut Candra, Toni menghubungi Viza Yelisanti sekitar tanggal 6 atau 7 November 2019 lalu, pasca kasus dugaan suap seleksi KPU di Lampung mencuat.

Majelis sidang DKPP pun langaung mengkonfirmasi terkait nama yang diaebutkan oleh Chandra tersebut, dengan menghubungi Ketua KPU RI Arif Budiman. Al hasil, benar jika ada staf di KPU RI dengan nama (panggilan) Toni. Toni adalah staf mantan Komisioner KPU RI Wayhu Setiawan yang terkena OTT KPK, belum lama ini.

Atas fakta tersebut, majelis sidang DKPP meminta pihak pelapor untuk melengkapi bukti baru. Screenshot panggilan Toni kepada Viza Yulianti.

Sebab nantinya, DKPP akan mengusut lebih dalam lagi prihal keterkaitan Toni dalam kasus itu.

Sementara, terlapor Esti Nur Fathonah tetap berkelit jika dirinya tidak pernah meminta uang kepada peserta seleksi. Namun, yang menarik dari pernyataan Esti adalah jika dirinya tidak pernah meminta meminta uang untuk kepentingan dirinya pribadi.

“Oh, tidak pernah meminta untuk pribadi. Tapi untuk kepentingan kelompok pernah,” katus salah satu peserta sidang yang enggan namanya di publikasi.

Menurut Esti, pertemuan antara dirinya dengan peserta seleksi di hotel tersebut bukanlah pertemuan yang disengaja dan tidak direncanakan.

“Saya cuma shalat. Tidak melakukan komunikasi apapun kepada mereka. Saya tidak pernah meminta uang untuk kepentingan saya pribadi,” kata Esti.

Anggota Majelis Sidang, Nila Nargis mencoba menkonfirmasi mengenai dugaan Esti Nur Fathonah bermain-main dalam seleksi. Ia mengatakan sebagai Komisioner KPU Lampung seharusnya ada jarak terlebih dahulu, walaupun saling kenal antar peserta.

“Tugas sebagai timsel harus dilakukan. Walaupun kenal akrab, inikan masih satu rangkaian tahapan kenapa melakukan pertemuan. Ini etiknya gimana mbak Esti,” tegas dia.

Dalam sidang pemeriksaan tersebut, terlapor atas nama Esti Nur Fathonah diduga terlibat suap pada proses seleksi Anggota KPU Tulangbawang. Dalam laporan dijelaskan, Lilis Pujiati bersama Esti Nur Fathonah melakukan pertemuan dengan Guntur Sumedi suami dari Fiza Yelisanti yang merupakan calon Anggota KPU Tulangbawang yang masih mengikuti proses seleksi.

Dalam pertemuan tersebut membahas permintaah sejumlah uang sebesar Rp150 juta guna memastikan pencalonan Viza Yelisanti diurus.

Sidang dipimpin Ketua Majelis Alfitra Salam didampingi oleh anggota Ida Budiarti serta Tim Pemeriksa Daerah Muhammad Teguh, dan Nila Nargis.

Hadir juga pengadu Budiono dan Chandra Muliawan, serta anggota KPU Lampung Esti Nur Fathonah didampingi Ketua KPU Lampung Erwan Bustami, dan anggota KPU Lampung M. Tio Aliansyah, juga Ketua Bawaslu Lampung Fatikhatul Khoriyah, dan anggota Bawaslu Lampung Karno Ahmad Satarya. (tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *