Dikunjungi Abah, Guru Chintya Chandranaya Ungkap Keistimewaannya

JARRAKPOSLAMPUNG – Guru Majelis Solawat Prof.DR. DR.(H.C) Syarief Muhammad Saepulhaqy Byhaqy Abdurrahman Al Kadrie S.T., M.T memberikan suport penuh kepada Pesilat Putri Lampung, Chintya Candranaya dalam mengembangkan seni pencak silat.

Suport tersebut disampaikan Abah (begitu beliau biasa dipanggil) saat bersilaturrahmi dengan Naya (sapaan akrab Chintiya) didampingi manager, Anjar dan pelatih, Agus Setiawan Jaya di Els Caffe Home, Bandarlampung, Selasa (14/06/2022).

Menurut Abah, kemampuan Naya adalah upaya dalam pengembangan seni bela diri yang mestinya disuport, bukan justru di caci dan di bully.

Saya sangat menyesalkan konten seni kretif karya Cyntia menjadi bahan bullying. Padahal ini adalah potensi dan peluang di bidang seni bela diri. Semestinya anak muda, putra putri bangsa yang berbakat seperti Cyntia ini mendapat suport dan apreasiasi,” kata Abah.

Para Ulama, lanjut Abah, akan selalu suport setiap anak muda yang memiliki potensi dan berprestasi di bidang apapun, terlebih di bidang seni bela diri. Sebab, kata Abah, seni bela diri adalah pengejawantahan dari ketaqwaan.

“Itu sebabnya banyak Pondok Pesantren yang menjadikan seni bela diri sebagai bagian dari proses pendidikan,” tutur petinggi Badan Sandi dan Siber Negara (BSSN) itu.

Sementara Naya sendiri menuturkan, dirinya belajar mendalami seni bela diri tidak secara instan. Akan tetapi melalui tahapan step by step, yang panjang.

“Sejak kecil saya mulai tertarik seni bela diri saat berusia 7 tahun. Niatnya ingin membentengi diri, karena semua keluarga saya tidak ada yang berlatar belakang bela diri, kecuali paman yang melatih saya,” tutur Naya.

Wanita cantik yang lahir di Bandarlampung 25 Agustus 1997 itu pernah tergabung dalam kelompok silat JIGH AD Harimau Utara. Di usianya ke 24 Naya sukses dengan konten Youtube dengan ratusan ribu pengikut.

Prof.DR. DR.(H.C) Syarief Muhammad Saepulhaqy Byhaqy Abdurrahman Al Kadrie S.T., M.T saat bersilaturrahmi ke tempat latihan Naya di dampingi manager, Anjar dan pelatih, Agus Setiawan Jaya
Keistimewaan Sang Guru

Di tempat yang sama Pelatih Naya, Agus Setiawan Jaya mengaku dididik oleh ayah angkatnya yang berdarah Tionghoa sejak berusia dini. Saat itu, kata dia, dirinya berlatih Kungfu.

“Masa kecil saya banyak keajaiban yang saya alami. Saya pernah bermimpi yang terempirik dalam dunia nyata. Saat itu saat saya sedang tidur, banyak orang menyaksikan jika tubuh saya terangkat dan berubah menjadi harimau,” tutur Agus.

Tidak hanya itu, keanehan lainnya yang bagi sebagian orang itu adalah keistimewaan, saat dirinya belajar mengaji di usia 12 tahun. Anehnya, lanjut Agus, dirinya selalu diajari setengah-setengah.

“Karena setengah setengah itu lah,
saya berdoa untuk meminta agar dimudahkan. Tiba-tiba dalam waktu tiga hari saya bisa berbahasa arab,” jelas dia.

Di usianya ke 25 tahun, Agus mencoba menciptakan gerakan-gerakan bela diri (pencak silat), itu lah yang terus diasahnya,  di kembangkan sampai sekarang.

“Saya selalu tekankan kepada murid saya bahwa, seni bela diri tidak terlepas dengan religiusitas. Saya mewajibkan setiap murid saya untuk berpuasa Senin dan Kamis,” tandasnya. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *