Belajar Dari Kang Rahman, Pengrajin Jati Ukir Jepara

Meraup Rupiah Lewat Bisnis dan Hoby

JARRAKPOSLAMPUNG – Galery Meubel Manunggal Jepara yang terletak di Jalan Imam Bonjol, Langkapura, Bandarlampung memang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Bandarlampung dan sekitarnya.

Ya, galery milik pengusaha asal Jepara, Jawa Tengah itu adalah satu dari ratusan galery pengrajin jati ukir di Bumi Tapis Berseri. Adalah N Rahman pria 45 tahun yang sudah menggeluti bisnis di bidang meubeler ini selama puluhan tahun sebagai sumber pendapatan keluarganya.

Rahman mempekerjakan puluhan pengrajin kayu di galeri miliknya.

Di temui jarrakposlampung.com di kediamannya sekaligus tempat kerjanya, Sabtu (05/09/2020), Rahman mengaku jika galery yang dikelolanya bukan saja sebagai ladang pengumpul rupiyah, tetapi juga wahana penyaluran hoby bagi dirinya.

“Saya sudah menggeluti usaha ini kurang lebih 20 tahun. Bagi saya ini tidak saja soal bisnis, tapi juga hoby,” kata Ketua Paguyuban Pengrajin Kayu (P2K) Lampung itu.

Pruduk-produk prabotan yang dihasilkan galery milik N Rahman.

Produk yang dihasilkan dari galerinya pun tidak hanya meubeler, tapi juga berbagai kerajinan dan perhiasan dinding, seperti kaligrafi dan beragam miniatur yang juga berbahan dasar jati.

“Apa pun yang dipesan dan dibutuhkan konsumen selama berbahan dasar kayu jati, kami bisa membantu,” ujarnya.

Ya, beberapa prabotan yang berbahan dasar kayu jati dengan berbagai macam ukiran yang di bentuk beberapa kebutuhan perlengkapan rumah tangga, tersedia di galery yang di kelola pria yang juga pernah menguji keberuntungan di Pileg 2019 itu.

Galery Meubel Manunggal di bilangan Jalan Imam Bonjol, Langkapura, Bandarlampung.
Berbagai model sofa mewah pun tersedia.

“Prabotan yang terbuat dari kayu ini masih banyak di minati oleh masyakarat, karena dirasa kuat dan kokoh serta mempercantik rumah,” tuturnya.

Menurut Rahman, selain melayani kebutuhan masyarakat umum, galerinya juga beberapa kali diminta untuk memenuhi kebutuhan para pejabat di Lampung.

“Alhamdulillah, beberapa rumah dinas bupati pernah mempercayakan kepada saya untuk memenuhi kebutuhan meubelernya sekaligus dsain interiornya,” ucapnya.

Untuk harga, Rahman menyebut tergantung dari kualitas dan ukuran kayu yang di gunakan. Keuntungan yang di dapatnya pun sekitar 30 persen dari modal. Untuk bahannya saja mendatangkan dari Jawa, karena di Lamoung sulit untuk menemukan bahan dasar kayu dengan ukuran yang besar, seperti yang digunakan di galerinya.

“Pangsa pasar kami adalah semua kalangan. Karenanya, kami tidak mematok harga tinggi. Asal suka sama suka dan dirasa sudah untung, maka saya lepas,” ujarnya.

Selain melayani pemesanan meubeler, lanjutnya, galery yang sikelolanya juga melayani servis berbagai perabotan rumah tangga yang terbuat dari kayu.

“Tidak jarang mereka yang ingin melakukan perbaikan atau pemerajaan forniturnya, membawa perabotannya kesini,” pungkasnya. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *